nailin

nailin
black

Minggu, Februari 20, 2011

Kisah si Blandong

Kisah unik yg setiap tahun selalu menggema di majlis-majlis peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sejak saya kecil hingga saat ini saya berumur 21 tahun… kali ini aku mencatatnya usai mendengar kisah ini dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Madrasah NU Banat...

oleh KH. Sya'roni Ahmadi...



Dahulu kala, hiduplah seorang anak bernama Blandong yg tinggal bersama ibunya. Karena kebutuhan hidup, sang ibu pun mulai mengutusnya untuk bekerja karena ayahnya pun telah dipanggil Sang Maha Kuasa. Blandong pun bersedia untuk bekerja karena meskipun dia adalah anak yg sangat bodoh, namun dia sangat patuh kepada ibunya.

Suatu hari, saat Blandong bersiap untuk berangkat kerja, sang ibu berpesan kepadanya, “Jika juraganmu memberikan upah, bawalah upah itu sampai rumah.” Seusai bekerja pun si Blandong menerima upah sebesar 1 Dirham. Mengingat pesan ibunya, dia pun membawa upah tersebut dg menggenggamnya erat-erat. Dengan rasa bahagia yg luar biasa, Blandong berlari pulang. Di tengah jalan, dia tiba-tiba terjatuh sehingga uang tersebut tercebur ke selokan. Dia pun jatuh bangun mengejar uang tersebut hingga mendapatkannya kembali. Sesampainya di rumah, sang ibu yg heran dg keadaan anaknya yg sangat kotor itu pun bertanya, “Kamu kenapa kok kotor sekali?”. Dengan lugu, Blandong pun menceritakan kejadian yg menimpanya. Lantas sang ibu berpesan, “Besok, kalau diberi upah juraganmu, taruh di saku ya, Nak.”

Hari ke dua, Blandong pun mendapatkan upah dan meletakkannya di saku. Sampai di rumah, dia menyerahkan upah yg ternyata berupa botol tanpa isi. Sang ibu pun bertanya, “Mengapa botol ini kosong?”. Blandong pun menjawab, “Tadi saya diberi sebotol susu, lalu sesuai perintah ibu, saya meletakkannya di dalam saku.” Sambil menggelengkan kepala, sang ibu berpesan, “Besok kalau diberi lagi, jangan lupa botolnya ditutupi ya, Nak.”

Hari ke tiga, seperti biasa, Blandong melaksanakan perintah ibunya. Dia memasukkan upah ke dalam botol lantas ditutupnya dengan erat. Di rumah, dia menyerahkan upah yg tak lain berupa seekor burung perkutut kepada sang ibu. Tentu saja, burung tersebut diserahkan dalam keadaan tak bernyawa karena sepanjang jalan terkurung di dalam botol yg tertutup rapat. Sang ibu yg sangat memahami anaknya pun berkata, “Nak, besok kalau diberi, jangan dimasukkan dalam botol lagi. Kamu pegangi kakinya saja, ya.”

Hari ke empat, sang juragan pun memberikan upah yg serta merta dipegangi kakinya oleh Blandong. Sesampainya di rumah, sang ibu panik karena melihat tangan anaknya yg berlumuran darah. Blandong, tetap dg keluguannya, menyerahkan upah kepada ibu. Sang ibu akhirnya faham bahwa anaknya terkena cakaran kucing yg sepanjang jalan tidak dilepaskan dari genggamannya. Dengan sabar, lantas sang ibu berpesan, “Lain kali, kamu ikat dg tali dan tuntun saja sampai rumah.”

Hari ke lima, Blandong pun melaksanakan pesan ibu seperti biasanya. Dia mengikat upahnya dg tali, lantas menuntunnya sampai ke rumah. Upah berupa sepotong paha kerbau yg selayaknya menjadi menu makan malam mereka, kini tak lagi layak untuk dihidangkan. Kali ini sang ibu berpesan, “Nak, besok digendong di pundak saja, ya.”

Seperti biasa, di hari ke enam Blandong mendapat upah. Sesuai dg pesan ibu, dia pun menggendongnya dg sekuat tenaga. Di sepanjang jalan, Blandong menjadi pusat perhatian karena yg digendongnya adalah seekor kuda. Tanpa memperdulikan sekitarnya, dia pun terus berjalan hingga melewati sebuah rumah milik saudagar kaya. Saudagar tersebut memiliki seorang anak yg lumpuh dan belum bisa terobati. Anak saudagar itu membuka jendela karena mendengar ada keramaian di jalanan. Melihat Blandong menggendong seekor kuda, anak itu pun tertawa girang dan melonjak-lonjak hingga penyakit lumpuhnya tak lagi terasa. Saudagar dan istrinya merasa heran dg kesembuhan anaknya. Lantas mereka mengikuti Blandong hingga ke rumah dan memberikan hadiah 50.000.000 Dirham kepada Blandong sebagai ungkapan terimakasih atas keluguan Blandong yg akhirnya membuat anak mereka sembuh dari penyakit lumpuhnya. Meskipun bodoh, anak itu pun kini mengecap buah manis lantaran hadiah yg diterimanya. Dan tak lain hal itu adalah buah manis dari kepatuhannya kepada perintah sang ibu.

Kamis, Februari 10, 2011

Amazing Thursday!!!


---Pukul delapan aku mengawali tekadku pagi itu, membuka kembali kardus tempat ku menyimpan buku-buku berserta seluruh kenangan semasa sekolah. Ku dapati sebuah amplop coklat besar yg berisi majalah tahunan lengkap dg data diri seluruh penghuni hujroh di ujung selatan komplek asramaku waktu itu. Ku buka perlahan menikmati karya penuh kenangan hingga akhirnya ku terhenti pada sebuah nama ‘Rabi’atul Adawiyyah’. Sebuah nama yg selama tiga tahun tertulis di buku-buku yg berdampingan dg bukuku. A very brilliant girl yg membuatku anti dg segala aksi ‘contek-menyotek’. Wiwix nama panggilan sesosok ‘boneka Poppy’ yg tak tergantikan duduk bersamaku di bangku itu, menginspirasi munculnya sebuah kata WE (Wiwix Elin) yg jika dibaca sebagai Bahasa Inggris, maka akan muncul makna kebersamaan, yakni ‘KITA’… ^_^
***Melaju dg sangat kencang di jalanan Kudus-Demak yg terlihat masih sangat lengang membuatku merasakan kebebasan luar biasa, serasa menjadi pembalap di sirkuit F1, Serpong, atau apalah namanya. Awan pun nampaknya berbaik hati memayungi laju sepeda motorku yg sesekali tidak begitu stabil lajunya karena terpaan angin siang yg begitu kencang.
---Segera setelah ku amati data diri kawan seperjuanganku, aku bergegas menuju ke ruang tengah di dalam rumah yg pagi itu tetap sepi seperti biasa. Serta merta ku genggam handle telephone berwarna merah maroon dan segera ku tekan enam digit angka yg langsung menghubungkanku kepada si pemilik nomor tujuan. Suara lembut, tentu saja cukup berbeda dg suara ceria yg beberapa tahun silam menjadi sumber petuah-petuah masa remajaku, kini menyapa di seberang sana. Ah, dari suara saja sudah berbeda, lantas perbedaan apa lagi yg akan kau sajikan siang ini kepadaku, Kawan??? Namun pagi itu aku harus melanjutkan peranku sebagai asisten sang peneliti hingga ku urungkan sejenak niatku untuk sesegera mungkin menemukan jawaban rasa penasaranku.
***Awalnya, aku cukup ragu untuk meluncur kesana di atas sepeda motor. Yach, meskipun telah genap 10 tahun aku lihai mengendarai motor, inilah pertama kalinya aku akan memutar handle motor sendiri mengitari alun-alun Demak. Namun rasa rinduku ini semakin tak tertahankan. Tak ku pedulikan hawa panas yg akan semakin menghitamkan kulitku. Ku lupakan dahsyatnya rasa kantuk yg biasanya tak mampu ku lawan pada jam-jam selepas adzan Dzuhur.
---Betapa pun beratnya, jalanan panjang itu berhasil ku taklukkan. Meski terbilang cukup mulus, tak berarti perjalananku kali ini ku tempuh tanpa rintangan. However, semua terbayar dg rasa bahagia ketika ku mulai melihat alun-alun Demak berada tepat di depan mataku. Tiga menit lagi akan ku jelang penawar rinduku. Aku pun mulai berjalan melingkar mengikuti bentuk khas alun-alun yg mungkin sama di setiap kota. Dan tak perlu ku berputar satu lingkaran penuh karena patung perahu itu selalu gagah berdiri di arah barat laut. Ku pelankan laju motorku berbelok ke arah belakang patung perahu, memasuki pagar hijau yg pernah satu kali ku kunjungi empat tahun silam. Sesosok ‘boneka Poppy’ menyapa dg senyum manisnya. Tampak sedikit ramping dg kulit putih bersih dan mata menyempit hasil karya kacamata yg beberapa tahun terakhir mau tak mau harus dikenakannya. Ku ucapkan salam dan memeluknya dg segenap rasa rindu yg menggunung selama 3,5 tahun.
***Perjalanan kembali ke Kudus setelah dua jam bercengkrama dengannya terasa lebih singkat daripada perjalanan menuju Demak siang tadi. Kubiarkan kesejukan angin sore menerpa wajahku yg sengaja tak ku tutup dg kaca helm maupun masker. hmmm… wajah yg kini dipenuhi dg senyuman. Perjalanan ini terasa sangat indah, Kawan. Sangat indah meskipun sesekali aku harus mengerem mendadak karena begitu banyak anak kecil berlari kesana kemari melintasi jalan bersama layangan yg tiba-tiba menghantam wajahku. Lubang-lubang yg menganga, korban ekstrimnya musim akhir-akhir ini, beberapa kali membuatku mengurangi kecepatan laju motor sembari menikmati pemandangan sawah yg menghijau di kanan kiri jalan.
---Kursi empuk di sudut ruang tamu menjadi pilihanku menyandarkan punggung yg meskipun hanya setengah jam perjalanan namun lumayan terasa pegalnya. Kawanku sedang berjalan membawa dua gelas teh panas ketika aku menyadari bahwa tubuh mungilnya berbalut jilbab pink, baju putih, dan rok pink, sama persis dg ‘kostum’ yg aku kenakan. Ah, ‘kebetulan’ yg sangat ‘kebetulan’ !!! Hanya itu yg dapat ku katakan karena tak berani menyimpulkan ‘lebih’ atas kembarnya ‘kostum’ kami. Dia pun mulai bercerita panjang lebar tentang suasana di negeri perantauan yg memaksanya ‘mengungsi’ ke tanah air. Kepulangan yg selayaknya membawa segudang kebahagiaan, kini hanya terasa sebagai hal yg ‘eman-eman’ karena sebenarnya hanya tinggal 5 bulan tersisa untuk dia menyelesaikan study di al-Azhar. Begitu banyak hal kami perbincangkan hingga tak terasa jam dinding klasik yg terpajang di ruang tengah menunjukkan pukul setengah lima sore. Dia pun mempersilakan aku masuk lebih dalam ke rumahnya. Ku dapati kamar mandi yg didominasi warna biru, tetap sama seperti empat tahun silam ketika aku juga berwudlu di dalamnya.
***Jalan-jalan becek penuh lubang membuatku cepat menebak bahwa aku tengah berada di depan pasar. Wajahku pun menoleh ke kanan dan ku dapati papan bertulis ‘Pasar Gajah’, menyadarkanku bahwa kotaku yg penuh dg kedamaian sudah semakin dekat. Kembali ku melaju dg cepat dan ku hentikan laju motorku di depan rumah dimana ibu dan bapakku tiba-tiba bertanya, “lhoh, kok cepet?ga nginep tah?” …
---Ku lipat kembali mukena yg bertuliskan ‘Masjid Agung Demak’ dan meletakkannya di atas ranjang. Sayup-sayup ku dengar ada suara lain di ruang tamu. Ah, ini dia sang kakak sulung yg sebelumnya hanya ku kenal melalui dunia maya. Sambil bersalaman, aku pun memperkenalkan diri, “Elin”, ku bilang. Si ‘boneka Poppy’ pun menambahi, “ga cuma sekelas, tapi 3 tahun sebangku terus.” Sedikit berbincang dg sang kakak cukup membuatku faham bahwa dia adalah seorang wanita cerdas dan sangat tabah. Ku rasa butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar banyak hal darinya. Yach, agak berat rasanya untuk meninggalkan kehangatan ini, namun jam dinding sekali lagi memperingatkan bahwa matahari akan segera menuju ke peraduannya. Mengingat penglihatanku yg kurang sempurna di kala petang, akhirnya ku putuskan untuk berpamitan. Dua jam terlalu singkat untuk membayar kerinduan selama 3,5 tahun. Tapi aku ingat bahwa masih ada hari-hari berikutnya yg dapat ku gunakan untuk mengunjungi atau syukur syukur bila dia bersedia berkunjung.
***Ku ambil segelas air putih dan merogoh tas batikku, mengambil benda putih yg tertera 4 pesan diterima pada layarnya. Ku buka satu persatu pesan yg mungkin telah ku abaikan selama beberapa jam tadi. Dan… Subchanallah, rahmat-MU sungguh tak ternilai… Sebuah pesan dari calon imamku, satu pesan dari kawan sekolahku yg kini telah menjadi seorang guru, dan dua pesan lagi dari seorang kawan spesial yg hanya ku kenal melalui monitor dunia maya. Kawan yg selama beberapa bulan ini hanya bisa ku temui melalui rangkaian kata di akun facebook nya, kini mengirim pesan pertanda dia sedang berada di rumah, Kudus. Benar-benar hari penuh senyuman. ^_^
---Kumandang adzan Maghrib mengawali semarak ‘liburan’ para santri yg memadati setiap ruang di sekitar Menara Kudus. Seharian beraktifitas sempat mebuatku berfikir untuk ‘absen’ dari majlis pembacaan Dziba’ malam itu. Huffftt…
***Selepas Shalat Maghrib, ada satu lagi pesan masuk, mengajakku berangkat ke medan suci penuh cinta bagi Sang Nabi. Dan ku mulai menimbang rasa, ah, apalah arti rasa lelah ini jika dibandingkan dg anugerah yg telah ku peroleh. Allah telah menganugerahkan begitu banyak nikmat kepadaku. Ku hapus niat ‘buruk’ untuk mengikuti ‘godaan’ rasa lelah. Ku pilih gamis putih bertabur bunga kecil-kecil dg lengan dan beberapa variasi berwarna biru tua. Segera ku buka pintu dan mulai melangkahkan kaki. Sepi. Ku rasa para gadis di kampung ini sudah lebih dulu berangkat dan hanya tertinggal aku dan seorang sepupu berjalan berdampingan sepanjang jalan. Malam itu, rasa cinta dan rindu kepada Rasul sangat kental terasa., bersama para gadis pecinta Rasul, melantunkan shalawat dan salam atas Insan Termulya…
Ya Rasulallah… salam ‘alaik… shalawatullah ‘alaik…

Rabu, Februari 09, 2011

My Day


Aku sedang duduk tepat di tengah ruangan berwarna dominan merah ini. Menempatkan sebuah nampan berwarna coklat di depanku dan mulai menikmati ketenangan khas teh melati. Ku pandang sebuah foto lelaki tampan terpampang yang di sampingnya terdapat satu pigura kosong bertuliskan “Maniac of the Month” . Entah apa maknanya, apakah seperti yg diributkan Sponge Bob dan Squid Ward???
Pagi ini, pukul setengah delapan aku mengawali aktifitas di luar rumah. Ku arahkan sepeda motorku ke tempat yg beberapa bulan lalu menjadi penyatu rasa antara aku dan keempat kawan cantikku, Kiki si mungil, Muna si kalem, Putri si narsis, dan Rini si ramah. Ku masuki gerbang itu bersambut tatapan mata para siswa yang sedang melantunkan ayat-ayat suci. Bergegas ku berlari menghampiri kawan mungilku yg telah siap dg segala konsep penelitiannya. Ya, hari ini peranku adalah sebagai asisten sang peneliti. Bahagia ku rasa karena aku dapat terus berada di samping kawanku ini, menemaninya menjelang titik kesuksesan skripsinya. SKRIPSI. Serta merta hatiku tersentak. Tugas yg beberapa bulan ini ku kesampingkan hanya karena kecintaanku pada mengajar. Ah, ini kah yg biasa dikatakan orang-orang “kuliah nyambi-nyambi”??? Fikiran yg sedari pagi penuh dg semangat tiba-tiba kehilangan jiwanya. Konsentrasiku mengembara tak terarah. Bahkan ketika Ibu Kepala Sekolah mengajakku berbicara tentang “jam mengajar” pun tak sepenuhnya ku perhatikan.
Dingin yg menyapa dari botol teh ini cukup ampuh untuk merelaksasi tubuhku dari segala kepenatan yg aku pun tak tau darimana asalnya. Alunan lagu-lagu Juliette, Indah Dewi Pertiwi, dan Umay yg sesekali diselingi dg nomor yg sangat akrab di telinga “14022” silih berganti menguap dari monitor di pojok ruangan ini.
Sembari menunggu hujan reda, aku dan kawan mungilku duduk di teras sekolah itu. Dia berbicara panjang lebar, para siswa menyapa silih berganti, memandangi siswa-siswa kelas tiga yang harus tetap berbaris rapi di tengah guyuran air hujan, tapi tak satupun yg mampu mengusik rasa aneh yg sangat membuatku tidak nyaman. Ku putuskan melaju kencang di jalan yg cukup ramai hingga mataku terarah pada sebuah warnet yg cukup cantik. Ah, mungkin disini akan ku temukan obatnya. Ku parkir motorku di depan warnet yg nampak masih cukup sepi. Mulai ku buka akun facebook dan yahoo messenger berharap menemukan kawan yg mampu mengalihkan perhatianku. Satu jam berlalu, aku justru semakin penat. Ku coba bertualang di search engine Google. STRESS. Ah, artikel ini langsung menjadi titik terang dari kegalauanku. Ku telusuri penanganannya, namun tak sedikitpun ku merasa tertangani hingga warnet itu nampak sudah penuh dg pelanggan.
Potongan ayam gurih dg yakiniku sauce lengkap dengan salad mulai menyapa lidahku. Aku memandang ke sekeliling ruangan ini. Ada beberapa pasang muda mudi yg turut kurasakan kebahagiaannya, sekelompok pemuda yg nampaknya sedang merayakan suatu keberhasilan, wanita dan pria yg duduk sendirian layaknya aku, dan petugas ‘warung’ yg selalu menebarkan senyum.
Dua jam yg telah menghasilkan jawaban ‘STRESS’ ku akhiri dg tanda tanya. ‘SHOPPING’ khas para wanita menjadi pilihan selanjutnya. Warna merah masih mendominasi di setiap sudut ‘pasar’ ini. Ku langkahkan kaki mengitari pajangan baju-baju yg biasanya membuatku ‘lapar’. Kali ini, tak satupun barang yg berjejalan di lorong-lorong itu mampu menarik perhatianku. Ku naiki escalator satu per satu, ku jelajahi setiap sudut ruangan, hingga sampailah aku di lantai empat. Di setiap sudut terpajang pernak pernik berwarna pink simbol para pemuja kematian sang pastor cinta. Ratusan batang coklat khas Bulan Februari tersusun rapi sebagai simbol kemuliaan cinta yg mereka agung-agungkan. Ku pilih beberapa batang coklat yg beberapa minggu ini sangat familiar di lidahku, beberapa kotak susu, dan minuman bergambar wortel sebagai menu wajib harianku. Tanpa harus mengantri, aku pun menyelesaikan ritual belanjaku.
‘Warung’ ini menjadi pilihanku setelah lelah dalam 3 jam pencarian ketenangan. Sambil menikmati dessert lembut dan renyah khas waffle sundae, ku lirik jam dinding bergambar rorok dan garis melintang yg menyiratkan makna ‘NO SMOKING’. Ku fikir, kira-kira pengusaha rokok bersedia makan disini ngga’ ya??? Jarum panjang tepat bertengger di angka enam dan yg pendek di antara angka dua belas dan satu. Ku menoleh ke arah barat, langit cerah memayungi kedamaian Masjid Agung Kudus yg tak pernah mengeluh di tengah bisingnya kendaraan yg melintas.
YA ALLAH… Kali ini aku ingat.
Sejak tanggal 1 Rabi’ul Awwal, kesyahduan alunan shalawat di mushalla pondok membangkitkan rasa rinduku, menyeruak dalam kalbu. Tiap pagi sepulang dari pondok, aku mengunci diri di kamar. Lantas ku baca tiap bait, ku lantunkan sekeras-kerasnya. Keras, sangat keras. Toh, tidak akan ada yg complain karena hanya ada aku dan ibuku di rumah. Tak mungkin pula ibuku menyuruhku berhenti karena yg ku lantunkan adalah pujian kepada Insan Termulya. Sepanjang pagi, hal ini terus ku lakukan hingga saatnya bapak, mas, dan adekku pulang dari madrasah.
Namun, hari ini berbeda. Karena telah menyatakan bersedia membantu kawan mungilku melaksanakan penelitiannya, pagi ini setelah mandi, aku langsung meninggalkan rumah tanpa meluangkan waktu sejenak melaksanakan ritual harianku.
YA ALLAH… Begitu dahsyat tanda yg ENGKAU alamatkan padaku.
Bergegas aku meluncur ke rumah, namun tak bisa ku teriak seperti biasanya karena bapak sudah lebih dulu pulang dari madarasah. Tak tega aku mengganggu istirahat beliau dg ungkapan kerinduanku pada Sang Nabi. Ku baca lirih, cukup menenangkan jiwa hingga akhirnya ku tertidur. Tidur yg singkat namun berkualitas. Aku bangun setengah jam kemudian dan bersiap melaju kembali melanjutkan pengabdianku di pondok tempat ku berlindung selama masa remajaku dulu.
AnugerahMU sungguh nyata, Tuhan…
Ba’da Maghrib, seperti biasanya, kami sudah berkumpul di mushalla. Kembali lantunan shalawat salam menggema di mushalla yg sama seperti lima tahun lalu ketika aku dan kawan-kawan bersama mencurahkan segenap kerinduan kami kepada Baginda Rasul. Di bulan yg sama ketika lima tahun lalu aku dan Rabi’atul Adawiyyah, kawan sebangkuku, berhasil launch a special edition bulletin yg terinspirasi dari euphoria menyambut saat-saat kelahiran Nabi. Begitu semarak, berada di tengah-tengah 130 santri, aku dapat melantunkan bait-bait syair pujian sepuas hati, mencurahkan segenap kerinduan pada Nabi penerang jiwa.
Aku pun merasa terbebas dari kepenatan yg menyiksa sedari pagi. Kini, ku tutup catatan ini dengan rasa lega luar biasa.
Ya ALLAH, kami berharap dapat menjadi bagian dari para pecinta RASULMU…
Isyfa’ lana, ya Habibana…
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…

Minggu, April 11, 2010

When we want to speak or write something in English, we always use the first word(s) to signal to the audience what the message is about. So in this case, first word(s) in speaking or writing is used to sign our sentence(s). In English, the first position in a clause contains textual meanings. Textual meaning is the meaning to organize our spoken / written text so that human make sense. Why do we have to analyze the text by using textual meaning? It is because when we use language we convey our meaning in spoken (phonology) or in written (graphology) so we have to analyze textual meaning to know what the kinds of text itself. To analyze textual meaning, we need a simple and distinct element of the textual meanings itself. The first element is theme and the rest of clause is rheme.

Theme is broadly speaking, what the clause is going to be about. And Rheme follows theme.
Theme represents ’this is what I am talking about’ and
Rheme represents ‘this is what I am saying about it’.

for further information, just call me.'_"

Minggu, April 04, 2010


1. DEFINITION, PARADIGM, AND THEORI
Action research is classroom-based research conducted by teachers in order to reflect upon and evolve their teaching. It is a systematic, documented inquiry into one aspect of teaching and learning in a specific classroom. (Conducting Action Research In The Foreign Language Classroom Northeast Conference 1998 New York, Ny Anna Uhl Chamot Sarah Barnhardt Susan Dirstine Materials Contributor: Jennifer Kevorkian)
Action Research is a rather simple set of ideas and techniques that can introduce you to the power of systematic reflection on your practice. (How To Do Action research In Your Classroom Lessons From The Teachers Network Leadership Institute, By Frances Rust And Christopher Clark)
Penelitian tindakan merupakan tindakan yang menekankan kepada kegiatan (tindakan) dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam praktek atau situasi nyata dalam skala mikro, yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Jenis-jenis penelitian tindakan antara lain : (1) Penelitian Tindakan Diagnostik; (2) Penelitian Tindakan Partisipasi; (3) Penelitian Tindakan Empiris; (4) Penelitian Tindakan Eksperimental (Penelitian Tindakan, by Hartoto, M.Pd.)
Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama. Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimiliki peneliti. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com)

Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “ riset-tindakan-riset-tindakan- yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com)

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut juga dengan Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di kelas dan meningkatkan kegiatan nyata Guru dalam pengembangan profesionalnya. (Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) Salah Satu Bentuk Karya Tulis Ilmiah Untuk Pengembangan Profesi Guru, Oleh Susanto, S.H.I )

Our basic assumption is that you have within you the power to meet all the challenges of the teaching profession. Furthermore, you can meet these challenges without wearing yourself down to a nub. The only theories involved are the ideas that you already use to make sense of your experience. (How To Do Action Research In Your Classroom Lessons From The Teachers Network Leadership Institute, By Frances Rust And Christopher Clark)


2. THE SYNTHESIS
Well, after reading the material above,
Based on what we have read, Classroom Action Research has some components

So, Classroom Action Research is a research of an action happens in a classroom (educational situation) specifically about the problems during the teaching activities. It is related to the teacher as the subject of teaching process. The teacher can do this research by him/herself. But it also can be a collaborative one. The researcher's consideration is the teaching process' reflection then finding some problems so that can be solved by applying other strategies.
All of parts happen in a cycle. It means, after applying the new strategy then he/she can reflect it again then finding another strategy. By this research, the researcher can find the better way of teaching for repairing the teaching strategy and also improving his/her skill. Of course, for the teacher, it can develop his/her professionalism.


3. THE REVIEW

A. The Concept of Classroom Action Research
Classroom Action Research is a research that is done to the class components (teacher, students, teaching activities) to find the problems occur in the teaching and learning process so there will be the solution for repairing the educational system.
The problems taken by the researcher should be an apprehensive one and the researcher has the commitment to solve them. In doing classroom action research, the researcher should be consistent in paying attention to the ethics procedure that is related to his/her job.
Although a class is in the teacher's responsibility's coverage, but in doing the research he/she has to use classroom exceeding perspective, that is the problems are not just considered as a class' context or a certain lesson (micro scale), but they have to be considered as a school's perspective mission entirely (macro scale).

CAR uses action research's main concept that consists of 4 components :
1) Planning
2) Acting
3) Observing
4) Reflecting

Those four components are related each ther as a cylce.

planning is the first step the researcher has to do before doing something. The planning is expected to be futuristic and flexible to face some non-anticipated effects. By the planning, we can prepare to handle the troubles early. By a good planning, a researcher can be easier to face some problems and it will be more effective in doing research.

acting is an applying of the planning. It can be a teaching method applying that has a purpose to repair or complete a certain model. That action can be applied by the persons who are involved in the applying a teaching method which the result also will be used for completing in doing assignment.

observing is used to see and capture some influences caused by a classroom action. This observation's result is a basic of doing reflection so that the research should be able to show the real situation. In the observation, the researcher should take a note of the process of action, the action's effetcs, environment, and some troubles.

reflection consists of : analysis, synthesis, interpretation, explanation, and conclusion.
The reflection's result is having repairmen of the planning which has been done, and it can be used for repairing the teacher's performance in the future. Thereby, the action research can't be held in only one meeting because it needs more time to do the reflection's result as a planning for the cycle after.


B. The Types of Classroom Action research :
1) Diagnostic type
The research that leads the researcher to an action because there is a problem happens. e.g. there is a conflict between students in a class, etc.
2) Participant type
The research which the researcher is involved directly from start till final.
3) Empirical type
The research is done by a planning to take a note of the process and evaluate the process out of the class. So, the researcher should collaborate with the teacher who does the classroom action.
4) Experimental type
The research is done as the way of applying some techniques, methods, or strategies in the teaching and learning process effectively and efficiently.

C. Characteristics
The characteristics of Classroom Action Research are:
It is based on the situation and related to the diagnosis and a problem solving in a certain context.
It can be participatory –if the research is done in a group- so each person takes a part in the process of research.
It can be self evaluative. The researcher doing evaluation continuously to improve his/her professionalism.
The procedure of action research is on the spot that is designed to handle the concrete problem happens in that place.
Its result can be immediately applied and long range
It is supple and adaptive
It more emphasizes the process than the method.
It is done to solve the chronic problem, not the new identified one
The classroom action researcher is ideally the person who really knows about the problems happen. Therefore, a teacher can be a doctor who will cure a chronic ill through the best recipe.
It is done in a cycle – as written in the "planning principle" above –. In every new cycle, ideally there will be significant difference with the previous cycle. It means the cycle in the previous research is not effective enough to solve the problem faced by the researcher.
The reflection's result of the previous cycle is the basic for the next cycle for making re-planning.

D. Purpose and Significance
Generally, the purposes of Classroom Action Research are:
(1) Improving the quality, process, and result of the teaching and learning process in a school.
(2) Helping the teacher and another educational staff to solve the educational problem.
(3) Growing the teacher and another educational staff's professionalism.
(4) Improving the academic culture in the school environment to create an active attitude in repairing the educational quality continuously.

The significances of Classroom Action Research are :
a. Educational innovation
In the educational innovation, a teacher needs to try changing, developing, and improving his/her teaching style so that he/she can get a new teaching style which is appropriate for the students.

b. Curriculum development
For the curriculum development, CAR will be very helpful if it is used as one of the sources. The process will be influenced by some related ideas about education, knowledge, and teaching. CAR can help the teacher to understand more empirically, not only teoritically.

c. Teacher's professionalism development
A professional teacher will not be bored to do revolution in the teaching process based on the classroom condition. CAR is one of medias used by the teacher to understand what happens in a class. Then he/she begins to repair it professisonally. A professional teacher needs to see and examine the process happens in a class critically . by examining his/her own teaching process, then he/she does reflection and repairing. At last, the teacher will be more professional.


Sources :
- Conducting Action Research In The Foreign Language Classroom Northeast Conference 1998 New York, Ny Anna Uhl Chamot Sarah Barnhardt Susan Dirstine Materials Contributor: Jennifer Kevorkian
- How To Do Action research In Your Classroom Lessons From The Teachers Network Leadership Institute, By Frances Rust And Christopher Clark
- http://akhmadsudrajat.wordpress.com
- Penelitian Tindakan, by Hartoto, M.Pd.
- Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) Salah Satu Bentuk Karya Tulis Ilmiah Untuk Pengembangan Profesi Guru, Oleh Susanto, S.H.I

Discourse Analysis

Persistent
I crossed the street to avoid meeting him, but he saw me and came running towards me. It was no use pretending that I had not seen him, so I waved to him. I never enjoy meeting Robert William because he never has anything to do. No matter how busy you are, he always insists on coming with you. I had to think of a way of preventing him from following me around all morning. However, it was difficult for me.
“Hullo, Robert,” I said. “Fancy meeting you here!”
“Hullo, Elizabeth,” He answered. “I was just wondering how to spend the morning – until I saw you. You are not busy doing anything, are you?
“No, not ø at all,” I answered ø. “I’m going to…”
“Would you mind my coming with you?” he asked ø, before I had finished speaking.
“Not ø at all,” I lied, “But I’m going to the dentist.”
“Well, I do too,” the persistent man answered ø. “There’s always plenty to read in the waiting room.”

Abc : cataphoric reference (Robert William)
Abc : cataphoric reference (Elizabeth)
Abc : anaphoric reference (Robert William)
Abc : anaphoric reference (Robert William)
It : anaphoric reference (preventing him from following me around all morning)
Abc : Superordinate
ø : ellipsis
a. I’m not busy
b. I answered his question
c. He asked to me
d. I don’t mind your coming with me
e. The persistent man answered my question
Because : causal conjunction
However : adversative conjunction
But : additive conjunction

Jumat, April 02, 2010

The Explanation Text

A.Social Function
To explain the processes involved in the formation or working of natural or socio-cultural phenomena.

B.Generic Structure:
A general statement to position the reader
A sequenced explanation of why or how something occurs.

C.Language Features:
Focus on generic, non-human Participants
Use mainly of Material Processes and Relational Processes
Use mainly of Temporal and causal Circumstances and Conjunctions
Use of simple present tense
Some use of passive voice to get theme right.

The Venus’s fly trap
The United States of America is where the Venus’s fly trap has its origins. The Venus’s fly trap is a unique plant. It belongs to a group of plants called ‘carnivorous plants’. These plants feed on insect. The Venus’s fly trap has a special mechanism by which it traps its prey. This is how it works.
At the end of each leaf – which grows from the base of a long, flowering stalk – there is a trap. The trap is made up of two lobes and is covered with short, reddish hairs which are sensitive. There are teeth like structures around the edge of the lobes.
The trap contains nectar which attracts insect. When an insect comes in contact with the nectar, the trap snaps shut. There are certain digestive juices inside the trap which digest the insect. It takes about ten days for a trapped insect to be digested. We can tell when this digestion is complete, for then the walls automatically open to wait for another victim.
There are two hundred species of carnivorous plants. Another kind of these well- known species is the pitcher plant. What differentiates this plant from the Venus’s fly trap is the shape, the mechanism to catch insects is the same in both plants.
The pitcher plants which cling to other plants by means of tendrils. At one end of the tendril, there is a pitcher –shaped vessel with an open lid. The mouth and the lid of the pitcher contain glands which produce nectar to attract insect. When an insect settles on the nectar, the lid of the pitcher shuts traps its victim. The digestive juices inside the pitcher then begin to work.
Language Features:
Generic, non-human Participants
The united states The Venus’s fly trap The base of a long
The digestive The trap snaps The nectar
The lobes The insect The walls
The shape The pitcher plant The mechanism
The same in both plants The pitcher shuts The mouth
The tendril The edge The lid The trap

Material Processes Trap Grow Work Made Cover
Come Take Open Wait Catch
Cling Produce Shut Digest Settles

Relational Process. Is Has Belongs to Are

Temporal and causal Circumstances and Conjunctions
And When for then then

Use of simple present tense Is has belongs to feed Traps
works grows attracts comes Shut
digest takes open cling Contain
produce settles begin

Passive voice is made up is covered