nailin

nailin
black

Kamis, Februari 10, 2011

Amazing Thursday!!!


---Pukul delapan aku mengawali tekadku pagi itu, membuka kembali kardus tempat ku menyimpan buku-buku berserta seluruh kenangan semasa sekolah. Ku dapati sebuah amplop coklat besar yg berisi majalah tahunan lengkap dg data diri seluruh penghuni hujroh di ujung selatan komplek asramaku waktu itu. Ku buka perlahan menikmati karya penuh kenangan hingga akhirnya ku terhenti pada sebuah nama ‘Rabi’atul Adawiyyah’. Sebuah nama yg selama tiga tahun tertulis di buku-buku yg berdampingan dg bukuku. A very brilliant girl yg membuatku anti dg segala aksi ‘contek-menyotek’. Wiwix nama panggilan sesosok ‘boneka Poppy’ yg tak tergantikan duduk bersamaku di bangku itu, menginspirasi munculnya sebuah kata WE (Wiwix Elin) yg jika dibaca sebagai Bahasa Inggris, maka akan muncul makna kebersamaan, yakni ‘KITA’… ^_^
***Melaju dg sangat kencang di jalanan Kudus-Demak yg terlihat masih sangat lengang membuatku merasakan kebebasan luar biasa, serasa menjadi pembalap di sirkuit F1, Serpong, atau apalah namanya. Awan pun nampaknya berbaik hati memayungi laju sepeda motorku yg sesekali tidak begitu stabil lajunya karena terpaan angin siang yg begitu kencang.
---Segera setelah ku amati data diri kawan seperjuanganku, aku bergegas menuju ke ruang tengah di dalam rumah yg pagi itu tetap sepi seperti biasa. Serta merta ku genggam handle telephone berwarna merah maroon dan segera ku tekan enam digit angka yg langsung menghubungkanku kepada si pemilik nomor tujuan. Suara lembut, tentu saja cukup berbeda dg suara ceria yg beberapa tahun silam menjadi sumber petuah-petuah masa remajaku, kini menyapa di seberang sana. Ah, dari suara saja sudah berbeda, lantas perbedaan apa lagi yg akan kau sajikan siang ini kepadaku, Kawan??? Namun pagi itu aku harus melanjutkan peranku sebagai asisten sang peneliti hingga ku urungkan sejenak niatku untuk sesegera mungkin menemukan jawaban rasa penasaranku.
***Awalnya, aku cukup ragu untuk meluncur kesana di atas sepeda motor. Yach, meskipun telah genap 10 tahun aku lihai mengendarai motor, inilah pertama kalinya aku akan memutar handle motor sendiri mengitari alun-alun Demak. Namun rasa rinduku ini semakin tak tertahankan. Tak ku pedulikan hawa panas yg akan semakin menghitamkan kulitku. Ku lupakan dahsyatnya rasa kantuk yg biasanya tak mampu ku lawan pada jam-jam selepas adzan Dzuhur.
---Betapa pun beratnya, jalanan panjang itu berhasil ku taklukkan. Meski terbilang cukup mulus, tak berarti perjalananku kali ini ku tempuh tanpa rintangan. However, semua terbayar dg rasa bahagia ketika ku mulai melihat alun-alun Demak berada tepat di depan mataku. Tiga menit lagi akan ku jelang penawar rinduku. Aku pun mulai berjalan melingkar mengikuti bentuk khas alun-alun yg mungkin sama di setiap kota. Dan tak perlu ku berputar satu lingkaran penuh karena patung perahu itu selalu gagah berdiri di arah barat laut. Ku pelankan laju motorku berbelok ke arah belakang patung perahu, memasuki pagar hijau yg pernah satu kali ku kunjungi empat tahun silam. Sesosok ‘boneka Poppy’ menyapa dg senyum manisnya. Tampak sedikit ramping dg kulit putih bersih dan mata menyempit hasil karya kacamata yg beberapa tahun terakhir mau tak mau harus dikenakannya. Ku ucapkan salam dan memeluknya dg segenap rasa rindu yg menggunung selama 3,5 tahun.
***Perjalanan kembali ke Kudus setelah dua jam bercengkrama dengannya terasa lebih singkat daripada perjalanan menuju Demak siang tadi. Kubiarkan kesejukan angin sore menerpa wajahku yg sengaja tak ku tutup dg kaca helm maupun masker. hmmm… wajah yg kini dipenuhi dg senyuman. Perjalanan ini terasa sangat indah, Kawan. Sangat indah meskipun sesekali aku harus mengerem mendadak karena begitu banyak anak kecil berlari kesana kemari melintasi jalan bersama layangan yg tiba-tiba menghantam wajahku. Lubang-lubang yg menganga, korban ekstrimnya musim akhir-akhir ini, beberapa kali membuatku mengurangi kecepatan laju motor sembari menikmati pemandangan sawah yg menghijau di kanan kiri jalan.
---Kursi empuk di sudut ruang tamu menjadi pilihanku menyandarkan punggung yg meskipun hanya setengah jam perjalanan namun lumayan terasa pegalnya. Kawanku sedang berjalan membawa dua gelas teh panas ketika aku menyadari bahwa tubuh mungilnya berbalut jilbab pink, baju putih, dan rok pink, sama persis dg ‘kostum’ yg aku kenakan. Ah, ‘kebetulan’ yg sangat ‘kebetulan’ !!! Hanya itu yg dapat ku katakan karena tak berani menyimpulkan ‘lebih’ atas kembarnya ‘kostum’ kami. Dia pun mulai bercerita panjang lebar tentang suasana di negeri perantauan yg memaksanya ‘mengungsi’ ke tanah air. Kepulangan yg selayaknya membawa segudang kebahagiaan, kini hanya terasa sebagai hal yg ‘eman-eman’ karena sebenarnya hanya tinggal 5 bulan tersisa untuk dia menyelesaikan study di al-Azhar. Begitu banyak hal kami perbincangkan hingga tak terasa jam dinding klasik yg terpajang di ruang tengah menunjukkan pukul setengah lima sore. Dia pun mempersilakan aku masuk lebih dalam ke rumahnya. Ku dapati kamar mandi yg didominasi warna biru, tetap sama seperti empat tahun silam ketika aku juga berwudlu di dalamnya.
***Jalan-jalan becek penuh lubang membuatku cepat menebak bahwa aku tengah berada di depan pasar. Wajahku pun menoleh ke kanan dan ku dapati papan bertulis ‘Pasar Gajah’, menyadarkanku bahwa kotaku yg penuh dg kedamaian sudah semakin dekat. Kembali ku melaju dg cepat dan ku hentikan laju motorku di depan rumah dimana ibu dan bapakku tiba-tiba bertanya, “lhoh, kok cepet?ga nginep tah?” …
---Ku lipat kembali mukena yg bertuliskan ‘Masjid Agung Demak’ dan meletakkannya di atas ranjang. Sayup-sayup ku dengar ada suara lain di ruang tamu. Ah, ini dia sang kakak sulung yg sebelumnya hanya ku kenal melalui dunia maya. Sambil bersalaman, aku pun memperkenalkan diri, “Elin”, ku bilang. Si ‘boneka Poppy’ pun menambahi, “ga cuma sekelas, tapi 3 tahun sebangku terus.” Sedikit berbincang dg sang kakak cukup membuatku faham bahwa dia adalah seorang wanita cerdas dan sangat tabah. Ku rasa butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar banyak hal darinya. Yach, agak berat rasanya untuk meninggalkan kehangatan ini, namun jam dinding sekali lagi memperingatkan bahwa matahari akan segera menuju ke peraduannya. Mengingat penglihatanku yg kurang sempurna di kala petang, akhirnya ku putuskan untuk berpamitan. Dua jam terlalu singkat untuk membayar kerinduan selama 3,5 tahun. Tapi aku ingat bahwa masih ada hari-hari berikutnya yg dapat ku gunakan untuk mengunjungi atau syukur syukur bila dia bersedia berkunjung.
***Ku ambil segelas air putih dan merogoh tas batikku, mengambil benda putih yg tertera 4 pesan diterima pada layarnya. Ku buka satu persatu pesan yg mungkin telah ku abaikan selama beberapa jam tadi. Dan… Subchanallah, rahmat-MU sungguh tak ternilai… Sebuah pesan dari calon imamku, satu pesan dari kawan sekolahku yg kini telah menjadi seorang guru, dan dua pesan lagi dari seorang kawan spesial yg hanya ku kenal melalui monitor dunia maya. Kawan yg selama beberapa bulan ini hanya bisa ku temui melalui rangkaian kata di akun facebook nya, kini mengirim pesan pertanda dia sedang berada di rumah, Kudus. Benar-benar hari penuh senyuman. ^_^
---Kumandang adzan Maghrib mengawali semarak ‘liburan’ para santri yg memadati setiap ruang di sekitar Menara Kudus. Seharian beraktifitas sempat mebuatku berfikir untuk ‘absen’ dari majlis pembacaan Dziba’ malam itu. Huffftt…
***Selepas Shalat Maghrib, ada satu lagi pesan masuk, mengajakku berangkat ke medan suci penuh cinta bagi Sang Nabi. Dan ku mulai menimbang rasa, ah, apalah arti rasa lelah ini jika dibandingkan dg anugerah yg telah ku peroleh. Allah telah menganugerahkan begitu banyak nikmat kepadaku. Ku hapus niat ‘buruk’ untuk mengikuti ‘godaan’ rasa lelah. Ku pilih gamis putih bertabur bunga kecil-kecil dg lengan dan beberapa variasi berwarna biru tua. Segera ku buka pintu dan mulai melangkahkan kaki. Sepi. Ku rasa para gadis di kampung ini sudah lebih dulu berangkat dan hanya tertinggal aku dan seorang sepupu berjalan berdampingan sepanjang jalan. Malam itu, rasa cinta dan rindu kepada Rasul sangat kental terasa., bersama para gadis pecinta Rasul, melantunkan shalawat dan salam atas Insan Termulya…
Ya Rasulallah… salam ‘alaik… shalawatullah ‘alaik…

Tidak ada komentar: