nailin

nailin
black

Rabu, Februari 09, 2011

My Day


Aku sedang duduk tepat di tengah ruangan berwarna dominan merah ini. Menempatkan sebuah nampan berwarna coklat di depanku dan mulai menikmati ketenangan khas teh melati. Ku pandang sebuah foto lelaki tampan terpampang yang di sampingnya terdapat satu pigura kosong bertuliskan “Maniac of the Month” . Entah apa maknanya, apakah seperti yg diributkan Sponge Bob dan Squid Ward???
Pagi ini, pukul setengah delapan aku mengawali aktifitas di luar rumah. Ku arahkan sepeda motorku ke tempat yg beberapa bulan lalu menjadi penyatu rasa antara aku dan keempat kawan cantikku, Kiki si mungil, Muna si kalem, Putri si narsis, dan Rini si ramah. Ku masuki gerbang itu bersambut tatapan mata para siswa yang sedang melantunkan ayat-ayat suci. Bergegas ku berlari menghampiri kawan mungilku yg telah siap dg segala konsep penelitiannya. Ya, hari ini peranku adalah sebagai asisten sang peneliti. Bahagia ku rasa karena aku dapat terus berada di samping kawanku ini, menemaninya menjelang titik kesuksesan skripsinya. SKRIPSI. Serta merta hatiku tersentak. Tugas yg beberapa bulan ini ku kesampingkan hanya karena kecintaanku pada mengajar. Ah, ini kah yg biasa dikatakan orang-orang “kuliah nyambi-nyambi”??? Fikiran yg sedari pagi penuh dg semangat tiba-tiba kehilangan jiwanya. Konsentrasiku mengembara tak terarah. Bahkan ketika Ibu Kepala Sekolah mengajakku berbicara tentang “jam mengajar” pun tak sepenuhnya ku perhatikan.
Dingin yg menyapa dari botol teh ini cukup ampuh untuk merelaksasi tubuhku dari segala kepenatan yg aku pun tak tau darimana asalnya. Alunan lagu-lagu Juliette, Indah Dewi Pertiwi, dan Umay yg sesekali diselingi dg nomor yg sangat akrab di telinga “14022” silih berganti menguap dari monitor di pojok ruangan ini.
Sembari menunggu hujan reda, aku dan kawan mungilku duduk di teras sekolah itu. Dia berbicara panjang lebar, para siswa menyapa silih berganti, memandangi siswa-siswa kelas tiga yang harus tetap berbaris rapi di tengah guyuran air hujan, tapi tak satupun yg mampu mengusik rasa aneh yg sangat membuatku tidak nyaman. Ku putuskan melaju kencang di jalan yg cukup ramai hingga mataku terarah pada sebuah warnet yg cukup cantik. Ah, mungkin disini akan ku temukan obatnya. Ku parkir motorku di depan warnet yg nampak masih cukup sepi. Mulai ku buka akun facebook dan yahoo messenger berharap menemukan kawan yg mampu mengalihkan perhatianku. Satu jam berlalu, aku justru semakin penat. Ku coba bertualang di search engine Google. STRESS. Ah, artikel ini langsung menjadi titik terang dari kegalauanku. Ku telusuri penanganannya, namun tak sedikitpun ku merasa tertangani hingga warnet itu nampak sudah penuh dg pelanggan.
Potongan ayam gurih dg yakiniku sauce lengkap dengan salad mulai menyapa lidahku. Aku memandang ke sekeliling ruangan ini. Ada beberapa pasang muda mudi yg turut kurasakan kebahagiaannya, sekelompok pemuda yg nampaknya sedang merayakan suatu keberhasilan, wanita dan pria yg duduk sendirian layaknya aku, dan petugas ‘warung’ yg selalu menebarkan senyum.
Dua jam yg telah menghasilkan jawaban ‘STRESS’ ku akhiri dg tanda tanya. ‘SHOPPING’ khas para wanita menjadi pilihan selanjutnya. Warna merah masih mendominasi di setiap sudut ‘pasar’ ini. Ku langkahkan kaki mengitari pajangan baju-baju yg biasanya membuatku ‘lapar’. Kali ini, tak satupun barang yg berjejalan di lorong-lorong itu mampu menarik perhatianku. Ku naiki escalator satu per satu, ku jelajahi setiap sudut ruangan, hingga sampailah aku di lantai empat. Di setiap sudut terpajang pernak pernik berwarna pink simbol para pemuja kematian sang pastor cinta. Ratusan batang coklat khas Bulan Februari tersusun rapi sebagai simbol kemuliaan cinta yg mereka agung-agungkan. Ku pilih beberapa batang coklat yg beberapa minggu ini sangat familiar di lidahku, beberapa kotak susu, dan minuman bergambar wortel sebagai menu wajib harianku. Tanpa harus mengantri, aku pun menyelesaikan ritual belanjaku.
‘Warung’ ini menjadi pilihanku setelah lelah dalam 3 jam pencarian ketenangan. Sambil menikmati dessert lembut dan renyah khas waffle sundae, ku lirik jam dinding bergambar rorok dan garis melintang yg menyiratkan makna ‘NO SMOKING’. Ku fikir, kira-kira pengusaha rokok bersedia makan disini ngga’ ya??? Jarum panjang tepat bertengger di angka enam dan yg pendek di antara angka dua belas dan satu. Ku menoleh ke arah barat, langit cerah memayungi kedamaian Masjid Agung Kudus yg tak pernah mengeluh di tengah bisingnya kendaraan yg melintas.
YA ALLAH… Kali ini aku ingat.
Sejak tanggal 1 Rabi’ul Awwal, kesyahduan alunan shalawat di mushalla pondok membangkitkan rasa rinduku, menyeruak dalam kalbu. Tiap pagi sepulang dari pondok, aku mengunci diri di kamar. Lantas ku baca tiap bait, ku lantunkan sekeras-kerasnya. Keras, sangat keras. Toh, tidak akan ada yg complain karena hanya ada aku dan ibuku di rumah. Tak mungkin pula ibuku menyuruhku berhenti karena yg ku lantunkan adalah pujian kepada Insan Termulya. Sepanjang pagi, hal ini terus ku lakukan hingga saatnya bapak, mas, dan adekku pulang dari madrasah.
Namun, hari ini berbeda. Karena telah menyatakan bersedia membantu kawan mungilku melaksanakan penelitiannya, pagi ini setelah mandi, aku langsung meninggalkan rumah tanpa meluangkan waktu sejenak melaksanakan ritual harianku.
YA ALLAH… Begitu dahsyat tanda yg ENGKAU alamatkan padaku.
Bergegas aku meluncur ke rumah, namun tak bisa ku teriak seperti biasanya karena bapak sudah lebih dulu pulang dari madarasah. Tak tega aku mengganggu istirahat beliau dg ungkapan kerinduanku pada Sang Nabi. Ku baca lirih, cukup menenangkan jiwa hingga akhirnya ku tertidur. Tidur yg singkat namun berkualitas. Aku bangun setengah jam kemudian dan bersiap melaju kembali melanjutkan pengabdianku di pondok tempat ku berlindung selama masa remajaku dulu.
AnugerahMU sungguh nyata, Tuhan…
Ba’da Maghrib, seperti biasanya, kami sudah berkumpul di mushalla. Kembali lantunan shalawat salam menggema di mushalla yg sama seperti lima tahun lalu ketika aku dan kawan-kawan bersama mencurahkan segenap kerinduan kami kepada Baginda Rasul. Di bulan yg sama ketika lima tahun lalu aku dan Rabi’atul Adawiyyah, kawan sebangkuku, berhasil launch a special edition bulletin yg terinspirasi dari euphoria menyambut saat-saat kelahiran Nabi. Begitu semarak, berada di tengah-tengah 130 santri, aku dapat melantunkan bait-bait syair pujian sepuas hati, mencurahkan segenap kerinduan pada Nabi penerang jiwa.
Aku pun merasa terbebas dari kepenatan yg menyiksa sedari pagi. Kini, ku tutup catatan ini dengan rasa lega luar biasa.
Ya ALLAH, kami berharap dapat menjadi bagian dari para pecinta RASULMU…
Isyfa’ lana, ya Habibana…
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…

Tidak ada komentar: