Kisah unik yg setiap tahun selalu menggema di majlis-majlis peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sejak saya kecil hingga saat ini saya berumur 21 tahun… kali ini aku mencatatnya usai mendengar kisah ini dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Madrasah NU Banat...
oleh KH. Sya'roni Ahmadi...
Dahulu kala, hiduplah seorang anak bernama Blandong yg tinggal bersama ibunya. Karena kebutuhan hidup, sang ibu pun mulai mengutusnya untuk bekerja karena ayahnya pun telah dipanggil Sang Maha Kuasa. Blandong pun bersedia untuk bekerja karena meskipun dia adalah anak yg sangat bodoh, namun dia sangat patuh kepada ibunya.
Suatu hari, saat Blandong bersiap untuk berangkat kerja, sang ibu berpesan kepadanya, “Jika juraganmu memberikan upah, bawalah upah itu sampai rumah.” Seusai bekerja pun si Blandong menerima upah sebesar 1 Dirham. Mengingat pesan ibunya, dia pun membawa upah tersebut dg menggenggamnya erat-erat. Dengan rasa bahagia yg luar biasa, Blandong berlari pulang. Di tengah jalan, dia tiba-tiba terjatuh sehingga uang tersebut tercebur ke selokan. Dia pun jatuh bangun mengejar uang tersebut hingga mendapatkannya kembali. Sesampainya di rumah, sang ibu yg heran dg keadaan anaknya yg sangat kotor itu pun bertanya, “Kamu kenapa kok kotor sekali?”. Dengan lugu, Blandong pun menceritakan kejadian yg menimpanya. Lantas sang ibu berpesan, “Besok, kalau diberi upah juraganmu, taruh di saku ya, Nak.”
Hari ke dua, Blandong pun mendapatkan upah dan meletakkannya di saku. Sampai di rumah, dia menyerahkan upah yg ternyata berupa botol tanpa isi. Sang ibu pun bertanya, “Mengapa botol ini kosong?”. Blandong pun menjawab, “Tadi saya diberi sebotol susu, lalu sesuai perintah ibu, saya meletakkannya di dalam saku.” Sambil menggelengkan kepala, sang ibu berpesan, “Besok kalau diberi lagi, jangan lupa botolnya ditutupi ya, Nak.”
Hari ke tiga, seperti biasa, Blandong melaksanakan perintah ibunya. Dia memasukkan upah ke dalam botol lantas ditutupnya dengan erat. Di rumah, dia menyerahkan upah yg tak lain berupa seekor burung perkutut kepada sang ibu. Tentu saja, burung tersebut diserahkan dalam keadaan tak bernyawa karena sepanjang jalan terkurung di dalam botol yg tertutup rapat. Sang ibu yg sangat memahami anaknya pun berkata, “Nak, besok kalau diberi, jangan dimasukkan dalam botol lagi. Kamu pegangi kakinya saja, ya.”
Hari ke empat, sang juragan pun memberikan upah yg serta merta dipegangi kakinya oleh Blandong. Sesampainya di rumah, sang ibu panik karena melihat tangan anaknya yg berlumuran darah. Blandong, tetap dg keluguannya, menyerahkan upah kepada ibu. Sang ibu akhirnya faham bahwa anaknya terkena cakaran kucing yg sepanjang jalan tidak dilepaskan dari genggamannya. Dengan sabar, lantas sang ibu berpesan, “Lain kali, kamu ikat dg tali dan tuntun saja sampai rumah.”
Hari ke lima, Blandong pun melaksanakan pesan ibu seperti biasanya. Dia mengikat upahnya dg tali, lantas menuntunnya sampai ke rumah. Upah berupa sepotong paha kerbau yg selayaknya menjadi menu makan malam mereka, kini tak lagi layak untuk dihidangkan. Kali ini sang ibu berpesan, “Nak, besok digendong di pundak saja, ya.”
Seperti biasa, di hari ke enam Blandong mendapat upah. Sesuai dg pesan ibu, dia pun menggendongnya dg sekuat tenaga. Di sepanjang jalan, Blandong menjadi pusat perhatian karena yg digendongnya adalah seekor kuda. Tanpa memperdulikan sekitarnya, dia pun terus berjalan hingga melewati sebuah rumah milik saudagar kaya. Saudagar tersebut memiliki seorang anak yg lumpuh dan belum bisa terobati. Anak saudagar itu membuka jendela karena mendengar ada keramaian di jalanan. Melihat Blandong menggendong seekor kuda, anak itu pun tertawa girang dan melonjak-lonjak hingga penyakit lumpuhnya tak lagi terasa. Saudagar dan istrinya merasa heran dg kesembuhan anaknya. Lantas mereka mengikuti Blandong hingga ke rumah dan memberikan hadiah 50.000.000 Dirham kepada Blandong sebagai ungkapan terimakasih atas keluguan Blandong yg akhirnya membuat anak mereka sembuh dari penyakit lumpuhnya. Meskipun bodoh, anak itu pun kini mengecap buah manis lantaran hadiah yg diterimanya. Dan tak lain hal itu adalah buah manis dari kepatuhannya kepada perintah sang ibu.
1 komentar:
ceritanya sangat berfanfaat sekali
Posting Komentar